Kamis, 02 November 2023

KEALIMAN SESEORANG BUKAN KARENA NASAB TAPI KARENA MERAWAT RUKUN IMAN DAN ISLAM

Editor : Basa Alim Tualeka

Media Online - ALIM ACADEMIA: Masih banyak di antara kita (manusia) yang beranggapan ketakwaan atau ke aliman seseorang terjadi karena NASAB.
Seorang Kyai akan menurunkan (generasi) anak juga kyai, ada juga beberapa yang seperti itu tetapi tidak mutlak. Artinya itu terjadi bukan karena NASAB tetapi hasil dari pengkaderan orangtua Melalui merawat rukun Iman dan rukun islam dengan sepenuh hati. 

Jadi jangan bangga punya nasab kyai karena bukan nasab itu yang dapat menolongmu di hari akhir nanti.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : “Apabila sangkakala telah ditiup maka tidak ada lagi KEBANGGAAN HUBUNGAN NASAB di antara mereka ketika itu dan tidak pula mereka saling bertanya.” (QS. Al-Mu’minun: 101)

" Hai manusia , bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang BAPAK tidak dapat MENOLONG ANAKNYA dan seorang ANAK tidak dapat (pula) MENOLONG BAPAKNYA sedikitpun.. (QS. Luqman : 33)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulallah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang lamban amalnya maka kemuliaan nasabnya tidak dapat mengejarnya." (HR. Muslim 2669)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan. "Siapa yang amalnya kurang maka ia tidak bisa mencapai kedudukan orang-orang yang serius beramal hanya karena punya kemuliaan nasab. Maka tidak semestinya seseorang itu bersandar pada kemuliaan nasab dan kemuliaan nenek moyang sehingga dengan alasan itu dirinya lamban dalam beramal ketaatan." (Syarh Shahih Muslim 17/21).

Allah telah menciptakan laki-laki dan wanita, menjadikan mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal dan menyadari kekuasaan Allah Yang Maha Sempurna.

Bukan untuk saling berbangga meninggikan sukunya dan bangsanya satu dengan yang lain karena yang paling mulia di sisi Allah hanyalah yang paling bertakwa.

Allah Subhanallahu Wa Ta'ala berfirman : (Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." 
(QS. Al-Hujuraat : 13)

Dan yang namanya ketakwaan tidak mungkin dicapai kecuali dengan ilmu dan pemahaman yang benar.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menjelaskan,
"Ketakwaan tidak akan diraih kecuali dengan amal dan amal tidak akan tegak kecuali di atas ilmu dan ittiba' (mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam), ilmu dan ittiba' tidak akan bermanfaat kecuali dengan keikhlasan." (Siyar A'lamin Nubala' 4/601)

Dan ketika engkau tahu dan sadar bahwa NASAB yang baik (tinggi) bukan jaminan akan memberimu pertolongan dan kemudahan bagimu kecuali amalanmu.

Perhatikan perintahNya sebagaimana firmanNya :
"Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu orang orang yang beriman." (QS. Al-Anfal : 1)

"Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar niscaya Allah akan memperbaiki amal- amalmu dan mengampuni dosa- dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan RasulNya, maka sungguh dia menang dengan kemenangan yang agung." (QS. Al-Ahzab : 70-71)

Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah jadikan dia faham dalam urusan agamanya." 
(HR Bukhari Muslim).

Kebenaran milik Allah Subhanallahu Wa Ta'ala dan kesalahan adalah perbuatan manusia oleh karena itu apabila ada kesalahan antara manusia mari kita saling memaafkan. 

Jalan Kebahagiaan dunia akhirat dapat di lalui dengan merawat Rukun Iman dan Islam.

Implementasikan Rukun Iman dan Islam dalam semua dimensi kehidupan.

Sepenuh hatilah dengan Rukun iman dan rukun Islam adalah dua perintah yang wajib di diimplementasikan bagi setiap Ummat Islam, karena Rukun iman dan rukun Islam adalah dua pondasi penting dalam ilmu agama Islam, Urgensi keduanya telah dijelaskan dalam ayat Al-Qur'an maupun keterangan hadits.

Rukun iman yang terdiri dari 6 hal termaktub dalam surah An Nisa ayat 136. Keenam rukun iman ini wajib diyakini dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari : "Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada kitab (Al Quran) yang Allah turunkan kepada RasulNya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya,"

Rukun Iman :

1. Iman Kepada Allah SWT

Rukun iman yang paling utama dan pertama adalah mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah itu ada (wujud). Artinya, setiap muslim wajib mempercayaiNya walaupun belum pernah melihat wujudNya, mendengar suaraNya, bahkan menyentuhNya.

2. Iman Kepada Malaikat

Beriman kepada malaikat maknanya mengimani wujud dan penciptaanya, mengimani 10 malaikat dan tugasnya yang diketahui, sekaligus mengimani sifat-sifatnya. Utamanya, sifat malaikat sebagai makhluk Allah SWT yang senantiasa tunduk dan patuh padaNya seperti dijelaskan dalam surah Al Anbiya ayat 19,

3. Iman Kepada Kitab

Rukun iman yang ketiga adalah iman kepada kitab-kitabNya. Hal ini dimaknai dengan meyakini dan mempercayai keberadaan kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah SWT.

Meski Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat muslim, Allah SWT memerintahkan umatnya untuk mengimani keberadaan kitab lain sebelumnya seperti, Taurat, Zabur, dan Injil. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 3.

4. Iman Kepada Rasul

Rasul sebagai utusan Allah SWT di muka bumi ini bertujuan untuk memberikan peringatan dan kabar kepada manusia. Keberadaan para rasul Allah SWT dibuktikan dalam surah Ar Ra'd ayat 38 yang berbunyi,

5. Iman Kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir atau hari kiamat artinya meyakini dan mempercayai bahwa hari itu pasti akan datang. Meski demikian, kedatangan hari akhir hanya diketahui oleh Allah SWT sebagaimana termaktub dalam surah Al A'raf ayat 187.

6. Iman Kepada Qada dan Qadar

Rukun iman terakhir adalah qada dan qadar. Qadha adalah ketetapan Allah SWT sejak sebelum penciptaan alam semesta (zaman azali). Sedangkan qadar adalah perwujudan ketetapan Allah SWT (qadha) yang sering disebut takdir.

Qadha adalah rencana dan qadar adalah perwujudan atau kenyataan, yang hubungan keduanya tak mungkin dipisahkan. Adanya qada dan qadar dijelaskan dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 38.

Sementara rukun Islam, ada 5 perkara yang perlu diamalkan sebagai tolak ukur keislaman seseorang. Kelima rukun yang dimaksud dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW, "Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan Muhammadan Rasulullah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan." (HR Bukhari dan Muslim)

Rukun Islam : 

1. Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

Menurut buku Cendekia Kementerian Agama (Kemenag), bacaan syahadat merupakan kesaksian dan pengakuan yang diiringi dengan pemahaman agar dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ada dua jenis syahadar yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul. Keduanya berisikan kesaksian secara lisan dan meyakini dari hati bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah utusannya.

2. Mendirikan Sholat

Rukun Islam kedua adalah mendirikan sholat. Kewajiban sholat lima waktu dalam sehari tertuang dalam surah An Nisa ayat 103.

Sebab turunnya kewajiban sholat lima waktu bermula ketika nabi Muhammad SAW melakukan Isra Mi'raj, sebuah perjalanan suci sehari semalam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dilanjutkan menuju Sidratul Muntaha.

3. Berpuasa di Bulan Ramadhan

Setiap muslim diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan untuk mencapai ketakwaan kepada Allah SWT. Rukun Islam yang kedua ini dijelaskan dalam surah Al Baqarah ayat 183.

4. Membayar Zakat

Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh muzakki (wajib zakat) untuk diberikan kepada mustahik (orang yang berhak menerimanya). Zakat hukumnya wajib bagi yang mampu melaksanakannya sebagaimana tertuang dalam surah Al Baqarah ayat 43.

5. Pergi Haji

Hukum menunaikan ibadah haji adalah wajib bagi yang mampu, seperti dijelaskan dalam surat Ali 'Imran ayat 97. Hadits lain yang juga mendukung pernyataan tersebut menyebutkan, kewajiban haji ini hanya berlaku sekali seumur hidup.

Mengimani rukun iman dan mengamalkan rukun Islam merupakan wujud ketaatan muslim pada Allah SWT dan rasulNya. Semoga kita semua menjadi bagian dari orang yang selalu menaati perintah Allah SWT Sukses dan bahagia di dunia dan di akhirat kelak. 

Jadi Dalam Islam, prinsip bahwa kealiman seseorang tidak ditentukan oleh nasab atau keturunan, tetapi oleh amal perbuatan dan ketakwaan, didasarkan pada ajaran agama dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadis. Ini mewujudkan gagasan bahwa semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk mendekatkan diri kepada Allah, terlepas dari latar belakang keturunan atau status sosial mereka.

Beberapa alasan mengapa Islam menekankan bahwa kealiman tidak terkait dengan nasab atau keturunan adalah:

1. Prinsip Kesetaraan: Islam mendorong prinsip kesetaraan di antara seluruh umat manusia. Setiap individu memiliki potensi untuk mencapai ketakwaan dan kebaikan, terlepas dari latar belakang mereka.

2. Tidak Ada Diskriminasi: Islam menolak segala bentuk diskriminasi berdasarkan ras, etnis, atau keturunan. Semua orang dianggap setara di hadapan Allah.

3. Tindakan dan Niat: Dalam Islam, lebih penting untuk menilai seseorang berdasarkan tindakan dan niat mereka, daripada hanya melihat asal-usul keturunan. Allah melihat hati dan amal perbuatan seseorang.

4. Kesempatan untuk Bertobat: Islam juga mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. 

Kealiman seseorang dapat meningkat melalui perubahan dan taubat.

Dengan demikian, dalam Islam, penting bagi seseorang untuk menjalankan ajaran agama, menjalankan rukun Islam dan rukun iman, dan mengamalkan kebaikan untuk mencapai kealiman, tanpa memandang asal-usul keturunan mereka. Ini mencerminkan nilai-nilai inklusi, kesetaraan, dan keadilan yang ditekankan dalam agama Islam.

Bahwa kealiman seseorang tidak ditentukan oleh nasab atau keturunan, tetapi oleh amal perbuatan dan ketakwaan. 

Kualitas keiman seseorang dinilai berdasarkan bagaimana mereka menjalankan rukun Islam dan rukun iman serta melakukan perbuatan baik yang sesuai dengan ajaran agama. 

Keimanan dan ketakwaan dalam Islam sangat ditekankan sebagai faktor penentu kebaikan dan keberkahan dalam hidup seseorang. Ini mencakup aspek seperti menjalankan ibadah, menolong sesama, berlaku adil, dan menjauhi perbuatan dosa. 

Dalam Islam, nasab atau keturunan hanyalah faktor turunan fisik dan bukan penentu utama kealiman seseorang. (Di bagikan oleh : Media Online - ALIM ACADEMIA).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini