Dr. Drs. Basa Alim Tualeka, MSi
obasa.Executive@gmail.com
Dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRAK
Perkembangan teknologi media saat ini menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, terutama media mainstreem memiliki perkembangan kearah media digital sehingga kekatan konstruksi sosial menjadi sangat sempurna. Perkembangan ini sangat bermanfaat bagi kemajuan masyarakat, namun juga dapat dimanfaatkan oleh kepentingan politik untuk mengontrol kekuasaannya. Terhadap lawan politiknya, partai politik dapat menggunakan kemajuan teknologi media massa ini untuk menyerang dan menangkal serangan balik melalui konstruksi social maupun dekonstruksi sosial. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitif naratif, menggunakan metode wawancara dengan memanfaatkan empat orang informan untuk menggali pemahaman tentang perkembangan multimedia digital di Indonesia dan bagaimana pemanfaatannya oleh partai politik di Indonesia melalui peran media massa.
Kata Kunci: Konstruksi Sosial, Multimedia Digital, Kebijakan Pemerintah, Media Massa, Hiper-Realiti Politik
PENDAHULUAN
Kearah Realitas Konstruksi Sosial
Teknologi media yang akhir zaman ini melahirkan banyak media komunikasi multimedia digital, berkembang dengan sangat dahsyat. Masyarakat tenggelam di dalam evoria teknologi ini, ekonomi mengeliat mengambil banyak keuntungan dari komersial teknologi multimedia. Namun di bidang politik, beberapa penguasa negara-negara di TImur Tengah runtuh seperti Irak, Mesir, Lybia, Syria, Yaman dan ada beberapa lagi yang akan menyusul. Pengaruh teknologi multimedia digital dan spektrumnya bagaikan hama ebola yang secara endemic merusak tatanan sosial dan politik, menghancurkan order sosial dan merusak hubungan-hubungan politik melalui kebebasan berfikir, kebebasan berbicara menuju kebebasan hak-hak asasi manusia, transparansi informasi dan demokrasi ‘salah faham’.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia dan Malaysia, dua bangsa bertetangga, serumpun, satu budaya, satu rumpun Bahasa namun berbeda sejarah masa lalu. Insonesia tahun 1998 telah mengalami pengalaman sangat buruk dalam kehidupan berbangsa, akibat dari ‘kebebasan pers’ yang dilakukan oleh Soeharto melalui kebijakan ‘senjata makan tuan’ pada waktu itu. Soeharto runtuh akibat kebebasan pers yang diurus oleh Menteri Penerangan Yunus Yosfiah saat itu. Orang mempertanyakan, apakah akan ada lagi gelombang kedua ‘media storm’ yang akan melanda Indonesia. Dengan cemas, kita wait and see, karena ketika kebebasan pers yang dilakukan oleh Soeharto, penyeberan teknologi multimedia belum seendemi saat ini, itu saja sudah menghanurkan Indonesia. Lalu saat ini bagaimana dengan Indonesia, yang penuh sesak dengan teknologi multimedia massa. Saya ibaratkan masyarakat Indonesia seperti sebatang kayu yang sedang dimakan rayap, dari luar tidak terlihat keropos, namun dari dalam kayu itu sudah hancur lebur. Karena itu sesungguhnya Indonesia tinggal menunggu saja saat terakhirnya. Contoh kasus, saat pemilu yang lalu, teknologi multimedia massa telah membelah dua bangsa Indonesia di dalam kondisi fitnah, hasutan dan penuh tipu muslihat dan pencitraan multimedia. Perang sosial melalui teknologi multimedia telah terjadi dari tingkat elite politik sampai ketingkat akar rumput dan pernag ini terus berkecamuk sampai saat ini dan memasuki tahap perang dingin.
Malaysia, lebih banyak belajar dari apa yang terjadi di Indonesia. Kelompok yang berkuasa tidak mau ambil resiko dengan membuka kebebasan pers seluas-luasnya seperti yang terjadi di Indonesia. Walaupun begitu, media-media di Malaysia sangat agresif melakukan serangan-serangan kepada musuh-musuh mereka. Malaysia lebih maju melihat konsep media dengan pemahaman multimedia digital dengan demikian Malaysia melihat digital sebagai rumpun teknologi media yang tak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Malaysia mewaspadai media-media mainstream seperti televisi, radio dan akbar (surat kabar) serta berjaga-jaga dengan meradangnya multimedia digital seperti internet dan media sosial. Terutama Ketika pemerintah Malaysia tahu bahwa gerakam oposisi Anwar Ibrahim cukup berhasil mengambil hati rakyat Malaysia melalui media-media sosial sehingga secara kuantitas penduduk Malaysia lebih banyak memilih partai-partai yang berkoalisi dengan Anwar Ibrahim pada pemilu Malaysia yang lalu, walaupun akhirnya koalisi Anwar Ibrahim kalah dalam pembagian kursi di Parlemen.
Pandangan Paradigmatik
Teknologi multimedia digital berhasil mempengaruhi kognitif manusia dan membangun hiper-realiti di dalam pikiran-pikiran manusia tentang negara yang ideal, tentang tokoh bangsa yang ideal, tentang demokrasi yang ideal, tentang kesejahteraan, tentang kebebasan berbicara, tentang kebebasan warga negara dan sebagainya.
Seperti yang ditunjukkan Tabel 1, berbagai konstruktor mendedikasikan diri mereka untuk berbagai faham konstruksi sosial, sehingga bagi peneliti saraf Gerhard Roth tampaknya tak terbantahkan bahwa pada (diri) kesadaran atau ‘diri’ adalah produk yang konstruktif dari otak, sebagai ‘pelabelan’ saraf, seolah-olah pencitraan itu benar-benar terjadi (Roth, 1996, Weber, 2002). 3 pemikir lain baik yang focus pada komunikasi utama, budaya atau media sebagai agen realitas yang menghasilkan sementara konstruktivisme hanya berkembang dalam variasi yang dikemukakan oleh Seigfried J. Schmidt (Weber, 2002), mencoba untuk mengamati semua agen konstruksi di ‘sirkuit tertutup’ yaitu otak manusia.
Jadi teknologi multimedia digital pada kenyataannya terkoneksi dengan saraf-saraf otak manusia. Gelombang magnetic pada teknologi multimedia digital terhubung dengan berjuta-juta saraf otak manusia, menghasilkan pencitraan yang seakan-akan ada dan hidup dengan bersama manusia.
Sebagian besar variasi konstruktivisme modern, terutama yang dikembangan dalam wacana ilmiah berbahasa Jerman, menganggap diri mereka sebagai counter position realisme (baik dalam kedok naif, moderat atau bahkan radikal konstruktivisme) yang masih mendominasi model intelektual dalam karya ilmiah, cara berpikir dan berbicara dengan penggambaran paradigma ralitas yang secara laten atau nyata dianjurkan oleh mayoritas ilmuwan. Oleh karena itu, cara pemikiran konstruktivis berbunyi sebagai antipoda dari bidang terminologi realistis.
METODE KAJIAN
Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dnegan format naratif, dimaksud bahwa kajian melakukan pengumpulan data dan melaporkan hasil-hasil kajian berdasarkan apa yang terjadi di lapangan. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode wawancara dengan empat orang responden yang memiliki pemahaman yang dalam terhadap perkembangan multimedia digital di Indonesia serta bagaimana kekuatannya dapat dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan di luar media massa di Indonesia.
HASIL KAJIAN
Hiper-Realitas Sosial-Politik
Dalam realitas sosial-politik di Malaysia, teknologi multimedia massa digunakan untuk menyerang lawan-lawan politik secara terbuka. Walau terkesan pemerintah mengontrol media-media mainstream, namun pada kenyataannya lawan-lawan politik saling menyerang menggunakan media massa dan multimedia lainnya. Kasus Anwar Ibrahim, di serang dari berbagai sisi, terutama dari sisi moral, serang-serang kepada Anwar Ibrahim dengan mengkonstruksi citra Anwar Ibrahim sebagai orang yang secara mental sudah bejad karena suka mensodomi orang, tak bisa mengatur keluarga dan sebagainya. Begitu pula, serangan-serangan golongan Melayu kepada golongan Cina, juga dilakukan secara terbuka di media-media surat kabar dan televisi dengan mengkonstruksi golongan Cina sebagai golongan yang banyak tingkah dan sebagainya.
Di Indonesia, dengan mengambil contoh Pemilu Presiden yang baru beberapa bulan berlalu, konstruksi hiper-realitas sosial-politik digunakan disemua level. Pada level pertama adalah level transformasi informasi yang terjadi antara individu satu dengan lainnya. Para pengguna multimedia internet, media sosial saling tukar-menukar informasi untuk konsumsi pengetahuan mereka.
Pada level kedua adalah level mengkonstruksi citra hiper-realitas tokoh (orang-orang) yang didukung didalam Pemilu Presiden. Pada level ini konstruksi hiper-realiti sosial-politik dimanfaatkan untuk memberikan pencitraan terhadap tokoh politik atau partai politik peserta pemilu. Jadi ketika Jokowi dkonstruksi sebagai representasi dari rakyat jelata dengan macam-macam konstruksi, mulai dari pakaian seadanya, jadi tukang becak, tukang tambal ban sepeda, blusukan dan sebagainya. Begitu pula ketika Prabowo mengkonstruksi citranya dengan pakaian kelas menengah, gaya bicara seperti Bung Karno, kelompok intelektual dan sebaginya. Maka ketika semua peristiwa itu dimuat di satu media saja, kemuadian di-repeated oleh multimedia, media mainstream, internet, media sosial, maka kekuatan konstruksi sosial menjadi berlipat-lipat ganda.
Pada level ketiga adalah level crime, dimana untuk mengkonstruksi hiper-realitas tokoh atau benda tertentu, pihak ini sengaja mengundang para hacker teknologi multimedia (bahkan dari luar negeri) untuk merusak, menerobas perusahaan-perusahaan media informasi untuk ‘memaksakan’ berita-berita tertentu yang diinginkan ada di laman-laman depan perusahaan media itu, sekaligus mereka merusak berita-berita tokoh lawan politik atau para hacker ini mencoba merekrut ‘follower palsu’ untuk membentuk opini dengan mesin-mesin dan komputer di tangannya.
Keterbatasan Hiper-Realitas Sosial-Politik
Konstruksi hiper-realitas sosial-politik memiliki batas-batas yang riskan untuk dipertahankan. Artinya kekuatan mengkonstruksi realitas, pada batas tertentu menjadi kelemahan sebesar konstruksi realitas itu dibangun. Dalam teori konstruksi sosial media (Burhan,2008), penyebaran konstruksi sosial ditentukan oleh kekukatan media massa. Jadi apabila teknologi multimedia idigital mengkonstruksi hiper-realitas sosial-politik dan penyebarkannya dengan keukuatan penuh ke seluruh lapisan masyarakat, maka sebesar itu pula kekuatan dekonstruksi sosial dapat menghancurkan konstruksi hiper-realitas sosial-politik.
Dengan demikian pertanyaannya sampai dimana kekuatan atau keterbatasan konstruksi hiper-realitas sosial-poitik itu, maka jawabannya adalah pada kekuatan teknologi multimedia digital yang ada di masyarakat itu sendiri. Namun demikian konstruktor dapat memainkan kekuatan konstruksi itu dengan kekuasaannya seperti:
Menggunakan sebanyak mungkin media konstruksi sosial sebagai media sendiri, atau media yang jelas-jelas memihak padanya.
Dengan kekuasaannya, dia berupaya menguasai atau menutup media-media lain yang berseberahan atau berpotensi berseberangan dengan dirinya.
Melakukan tindakan konstruksi sosial yang sedang disebarkan melalui multimedia digital.
Melakukan pengalihan perhatian masyarakat (yang konstruksi) terhadap hal-hal yang sekiranya akan merusak usia konstruksi sosial.
Melakukan repeatation konstruksi hper-realitas sosial-politik terutama dengan multimedia sendiri
Konstruksi sosial yang dilakukan secara berlebihan namun pada kenyataannya masyarakat menngetahui kehidupan yang sebenarnya dari objek yang dikonstruksi, maka akan mudah dilakukan dekonstruksi sosial. Menjaga konsistensi ini kadang kala konstruktor atau objek konstruksi tak sabar, karena kadang kala tak sesuai dengan kehidupan nyatanya.
Etika Konstruksi Hiper-Realitas Sosial
Teori konstruksi sosial media massa adalah teori netral sebagaimana juga teori-teori lain. Teori ini dapat digunakan untuk meningkatkan popularitas seseorang namun juga dapat menghancurkan lawan politik kita. Karena itu penggunaan teori ini harus melalui etika keilmuan yang ada. Pertama, konstruksi hiper-realitas sosial adalah suatu relitas yang dibentuk melaui teori konstruksi sosial media massa, sehingga media mainstream ikut bertanggungjawab terhadap penyebaran konten konstruksi sosial sebagai bagian yang ada keitannya dengan kode etik pers secara umum. Hal ini menjadi dilemma apabila penyebaran konstruksi sosial juga terjadi di media sosial. Naming kalua hal yang terakhir ini terjadi, maka tanggungjawab etikanya ada pada diri masing-masing orang yang memiliki media sosial itu. Kedua, teori ini selain bermanfaat meningkatkan oencitraan seseorang atau beda tertentu, namun demikian, perkara, riya’, sombong, memfitnah, mengecoh ornag lain atau bahkan menipu masyarakat dapat terjadi didalam konstruksi sosial, karena itu, tanggungjawab etikanya sepenuhnya ada pada agen konstruktor
DAFTAR PUSTAKA
Albert Bandura. 2001. Social Cognitive Theory of Mass Communication. Mediapsychology, 3, 256-299. Copyright © 2001, Lawrence Erlbaum Associates,Inc. Department of Psychology Stanford University.
Burhan Bungin. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa, Kekuatan Pengaruh Media Massa. Iklan Televisi dan Keputusan Serta Kritik Terhadap Peter L. Berger & Thomas Lucmann. Jakarta: Kencana
Hitoshi Yamaguchi. (2013). The Construction of Reality about "Media" on the Internet. Media coverage of the statement by NHK President, and the reaction in the Internet. Department Sociology, Faculty of Liberal Arts, Teikyo University White Paper: Information and Communication in Japan 2013.
Michael A. Stefanone, Derek Lackaff and Devan Rosen. 2014. The Relationship between Traditional Mass Media and "Social Media": Reality Television as a Model for Social Network Site Behavior. Journal of Broadcasting & Electronic Media Publication details, including instructions for authors and subscription information: http://www.tandfonline.com/loi/hbem20
Stefan Weber. 2002. Media and the construction of reality. Publisher: www.mediamanual.at, BMBWK, Abt. Z/11 Medienpädagogik, Original article; Stefan Weber: Was heißt "Medien konstruieren Wirklichkeit"? Von einem ontologischen zu einem empirischen Verständnis von Konstruktion. (Medienimpulse,Heft Nr. 40, Juni 2002)
Sahin KARASAR. 2002. Virtual Construction of Social Reality Through New Medium-Internet. Turkish Online Journal of Distance Education-TOJDE January 2002 ISSN 1302-6488 Volume: 3 Number: 1 Article No: 7.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar