Kamis, 13 April 2023

OPEN GROUNDED THEORY (OGT) DAN KEBIJAKAN NEGARA TERHADAP BRAND DESTINASI NEGARA : INDONESIA - MALAYSIA


Dr. Drs. Basa Alim Tualeka, MSi
obasa.Executive@gmail.com
Dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya


ABSRTAK

Penelitian kualitatif dilakukan untuk meneliti konstruksi sosial brand destinasi terhadap efek pada kedatangan turis. Analisis dilakukan kepada brand desitinasi Malaysia dan brand destinasi Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menganalisis penafsiran sosial terhadap konstruksi destination branding. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan Open Grounded Theory (OGT) dengan menggunakan dept interview terhadap informan penting di Indonesia maupun di Malaysia dan ulasan data sekunder dari pemerintah di kedua negara, Dewan Pariwisata, dan pencipta brand. Studi ini menunjukkan bahwa Open Grounded Theory (OGT) dapat digunakan pada penelitian komunikasi dengan obyek gambar. Hasil penelitian menunjukan brand destinasi yang dibangun berdasarkan filosofi bangsa, nilai-nilai, budaya dan warisan sebagai daya tarik produknya akan memudahkan wisatawan menafsirkan brand destinasi. Interpretasi Sosial terhadap brand destinasi dilakukan oleh wisatawan melalui lapisan sosial dan tingkat pengetahuan wisatawan. Selain itu, juga ditemukan bahwa citra brand destinasi kuat adalah brand destinasi yang memiliki lapisan teknis, lapisan ekonomis, dan simbolis. 
Kata kunci: open grounded theory, citra brand destinasi, konstruksi sosial, dan pariwisata

PENDAHULUAN

Paradigma konstruktivisme lahir dari idea dan gagasan-gagasan falsafah besar seperti Socrates (470-399 SM) dengan ideanya tentang jiwa dalam tubuh manusia. Plato (427-347 SM) dengan ideanya tentang akal budi. Aristoteles (384- 322 SM) sebagai pelopor informasi, hubungan-hubungan individu, substansi, materi dan esensi. Kemudian Descartes (1596-1650) mempelopori gagasan tentang kesadaran (Magee, 2008). Gagasan-gagasan utama dari paradigma konstruktivisme memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematik atas socially meanıngful action melalui pengamatan langsung terhadap aktor sosial dalam kancah ilmiah agar dapat memahami dan mentafsirkan bagaimana aktor sosial menciptakan dan memelihara dunia sosial (Deny, 1999).

Pandangan ontologi paradigma ini mengatakan bahwa realitas itu ada dalam beragam bentuk konstruksi mental yang diasaskan pada pengalaman sosial, bersifat lokal dan khusus serta tergantung kepada pihak yang melakukannya, sehingga realitas yang diamati tidak dapat digeneralisasikan (Deny, 1999). Atas pandangan inilah maka epistimologi konstruktivisme mengatakan bahwa antara pengamat dan subjek penelitian merupakan suatu kesatuan, bersifat subjektif dan merupakan hasil gabungan interaksi antara keduanya. Secara metodologik, aliran ini menerapkan tafsir dengan dua teknik, yaitu hermeneuties dan dialectics dalam proses mencapai kebenaran. Metode pertama dilakukan melalui identifikasi kebenaran atau konstruksi pendapat dari orang-perorang, sedangkan metode kedua mencoba untuk membandingkan dan menyilangkan pendapat dari orang-perorang yang diperoleh melalui metode pertama untuk memperoleh suatu konsensus kebenaran yang disepakati bersama.

Dengan demikian, hasil akhir dari suatu kebenaran merupakan gabungan pendapat yang bersifat relatif, subjektif dan khusus mengenai hal-hal tertentu. Justeru, konstruktivisme juga adalah interpretif, yaitu bagaimana setiap orang melakukan penafsiran terhadap apa yang dilihat dan dia alami (Deny, 1999). Berdasarkan uraian di atas, serta mempertimbangkan masalah dan fokus penelitin ini, maka peneliti menegaskan memihak kepada paradigma konstruktivisme dalam penelitin ini. Pertimbangan dan alasan memilih paradigma konstruktivisme adalah; 1) perspektif, fokus dan masalah dalam penelitin ini memandang fenomena sosial yang terjadi sebagai gejala yang sistematik, bukan suatu yang terjadi di luar itu; 2) bahwa untuk memperoleh data dalam penelitin, peneliti melakukan pengamatan langsung dan wawancara dengan aktor dalam kerangka proses ilmiah sebagaimana yang disyaratkan paradigma konstruktivisme, yaitu ada hubungan antara peneliti dengan subjek penelitin, agar peneliti mampu memahami dan mentafsirkan bagaimana aktor sosial mencipta dan memelihara dunia sosialnya yang peneliti kaji: 3) dalam kenyataannya, hubungan-hubungan individu dengan lingkungan sosialnya juga berhubungan dengan bahan dokumentasi, bahan video dan lainnya sebagai aktivitas masyarakat menyimpan bahan-bahan informasi penting. Bahan-bahan itu pula dikaji peneliti untuk memperoleh pemahaman utuh tentang aktivitas aktor sosial dalam lingkungan sosial mereka secara utuh; 4) dalam menganalisis data, sejak awal peneliti melakukan penelitin sampai akhir penelitin, sejak diperoleh data awal, mengumpulkan beraneka ragam data dan informasi serta sumber-sumber pengetahuan lainnya, peneliti mencoba membangun suatu kerangka berfikir induktif (grounded), yang kemudian menjadi suatu kerangka grounded theory terhadap teori konstruksi citra sosial atas realitas, maupun teori lain yang disahkan) dalam penelitin ini.

PENDEKATAN PENELITIAN

Berdasarkan paradigma konstruktivisme, serta peneliti mempertimbangkan pandangan-pandangan paradigmatik yang dianut dalam penelitian ini, yaitu bahwa, 1) fenomena sosial dianalisis berdasarkan pada pemaknaannya; 2) menggunakan observasi dalam memahami fenomena sosial; 3) melakukan pemahaman terhadap semua fenomena sosial yang ada hubungan dengan semua data penelitin, maka dalam penelitin ini peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif. Alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitin ini merupakan suatu proses mendapatkan data informan secara induktif dengan mengutamakan proses interpretif makna sebagai data utama. Mengikuti apa yang dikatakan oleh Denzin dan Lincoln (2009) bahwa semua penelitin kualitatif bercirikan paradigma interpretif. Maka pendekatan kualitatif yang dimaksud oleh peneliti adalah suatu proses interpretif terhadap data yang diperoleh dari informan dalam penelitin ini, yaitu melakukan serangkaian interpretif terhadap BDN dan strategi komunikasi pemasarannya.

HASIL KAJIAN
Strategi dan Metode Penelitian Grounded Theory (GT) 

Peneliti memandang penting untuk menegaskan metode penelitian yang digunakan dalam penelitin ini, mengingat ada beberapa bentuk metode penelitian dalam pendekatan kualitatif seperti dijelaskan oleh Creswell (2008), yaitu terdiri dari grounded theory, etnografi dan narasi. Ada beberapa kesulitan dalam memilih metode penelitian seperti yang dijelaskan Creswell (2008), yaitu; 1) hampir semua metode penelitian kualitatif bersifat interpretif, 2) ada keterbatasan pada masing- masing metode penelitian yang sifatnya khusus karena apa yang dihadapi oleh peneliti berbeda dengan fenomena yang dihadapi oleh peneliti lain; 3) dari sudut lain, peneliti memiliki kebebasan untuk mengembangkan sendiri metode penelitian yang akan digunakan. Oleh karena itu, dalam menghadapi fokus penelitian dan masalah penelitian dalam penelitin ini, peneliti menggunakan grounded theory (GT), Yang dimaksud dengan GT dalam tulisan ini seperti yang dikatakan oleh Creswell (2008), "metode ini digunakan untuk melacak pengalaman orang banyak dari berbagai individu untuk mengesahkan teori yang ada dan kalaupun dimungkinkan peneliti mengembangkan suatu leori atau konsep baru".

Alasan utama menggunakan GT pada masalah penelitin Penditraan Brand Destasi seperti dikatakan oleh Strauss dan Corbin (Denzin & Lincoln, 2009), bahwa; 1) prosedur GT bersifat terbuka bagi berbagai pendekatan baru seperti yang dilakukan olch peneliti dalam penelitian ini; 2) dapat menggabungkannya dengan beberapa metode lain termasuk pula dengan metode kuantitatif, 3) aplikasi penggunaan GT selalu disesuaikan dengan wilayah atau bidang yang sedang di selidiki, tujuan dan fokus dari penelitin, rintangan-rintangan yang dihadapi serta dapat pula disesuaikan dengan gaya peneliti, kelebihan dan kekurangan peneliti; 4) setiap peneliti dapat mengembangkan dan mengamalkan prosedur yang berbeda.

Sebagaimana dijelaskan pada perspektif dan fokus penelitian serta masalah penelitian, bahwa penelitin ini dimaksud untuk mengungkap berbagai pengalaman individu (Creswell, 2009), dalam perspektif konstruktivisme tentang brand destinasi, tafsir wisatawan terhadap brand destinasi serta berbagai pengalaman individu dalam perspektif strategik tentang strategi komunikasi pemasaran Pariwisata di kedua-dua negara.

GT dilaksanakan untuk mengungkap pengalaman informan yang terlibat dan mengetahui perkara-perkara BDN dan BEDN (VMY 2007 dan VIY 2008). Mereka ini adalah; 1) pencipta iklan BDN di masing-masing negara, baik sebagai pembuat atau sebagai institusi yang mengetahui hal-ihwal mengenai BDN, 2) wisatawan, yaitu wisatawan yang berkunjung ke Indonesia dan Malaysia.

Metode Penelitian dan Hambatan Grounded Theory (GT)

Grounded theory (GT) sesungguhnya bukan metode penelitian yang serba boleh, sebagaimana pula dengan metode-metode penelitian yang lain, GT mengalami kesulitan ketika digunakan pada bidang-bidang di luar antropologi ataupun sosiologi tradisional. 

GT sangat berhasil ketika memberi kebebasan kepada peneliti membangun kerangka penelitin yang sesuai dengan sifat-sifat dan watak daerah penelitin. Namun masuk pada fasa melakukan tafsir terhadap data-data penelitin, GT memerlukan bantuan dari metode-metode penelitian lainnya (Strauss & Corbin, 2009, Denzin & Linconln, 2009). 

Walaupun telah menggunakan wawancara dan observasi, namun ketika peneliti melakukan interpretif terhadap logo brand destinasi serta tageline, peneliti merasa ada beberapa kesulitan. Kesulitan itu seperti; 1) dalam melakukan tafsir terhadap simbol-simbol brand destinasi; 2) mengembangkan masalah-masalah di sekitar taafsiran wisatawan dan pegiat pariwisata terhadap pemaknaan brand destinasi. 

Untuk mengatasi kesulitan GT ini, maka peneliti dapat menggunakan beberapa teknik penelitian terpilih, sehiungga menjadi Open Gounded Theory (OGT). Karena itu, berdasarkan penjelasan mengenai pendekatan, strategi serta metode penelitian di atas, maka dalam penelitin ini peneliti menandai metode penelitian kali ini dengan nama Open Gounded Theory (OGT). 

Yang dimaksud dengan OGT ini adalah peneliti menggunakan tiga strategi GT dengan memberi ruang terhadap penggunaan metode-metode lain secara bersama-sama disaat pengumpulan data untuk melengkapi kelemahan GT. Sifat utama dari OGT yang digunakan oleh peneliti ini adalah luwes dalam menerapkan tiga strategi, artinya urutan pelaksanaan GT bermula dari strategi ledakan bola salju, strategi pelepasan bola salju dan strategi cerobong asap dilakukan bersama- sama secara serentak. Selain itu OGT pada penelitian kali ini menggunakan alat Social Construction of Reality (SCOR), analisis isi, dan analisis bahan dokumen.

Tabel 1.

Tabel 2.

Penggunaan OGT juga luwes terhadap semua metode terpilih, selama metode itu bermanfaat bagi OGT yang sedang digunakan. Dalam pelaksanaan OGT, peneliti dapat meninggalkan metode yang dahulunya digunakan untuk membantu OGT apabila dirasakan bahwa metode itu tidak berguna lagi karena masalah penelitian telah berubah. Sifat utama lain dari OGT ini ketika peneliti menggunakannya di lapangan, terasa bahwa semua struktur strategi memiliki turbulansi terhadap informasi, artinya bahwa strategi yang ada dapat menyesuaikan dengan kepentingan data dan informasi dan ‘ruang-ruang kosong' dalam strategi dapat diisi pula oleh metode baru atau bentukan-bentukan strategi yang lain.  

Berdasarkan penjelasan di atas, maka secara umum, peneliti membangun pendekatan openg grounded theory (OGT) di lapangan dalam tiga langkah strategik, disesuaikan dengan masalah penelitian, itu strategi ledakan bola salju, strategi pelepasan bola salju dan strategi cerobong asap. 

Strategi pertama, ‘ledakan bola salju', peneliti menggunakan masalah penelitian sebagai bongkahan salju utama yang diletupkan untuk menarik berbagai macam masalah di lapangan. Berbagai permasalahan dikaji untuk menjawab masalah penelitian. Beberapa di antaranya tidak berguna dan harus ditinggalkan, sedangkan beberapa di antaranya diperdalam dan dipelajari, diperhalus serta diperjelas lagi, sehingga ledakan bola salju menjadi kristal pada beberapa kelompok masalah yang telah direvisi diperdalam dan diperjelas, kemudian dikembangkan menjadi masalah-masalah baru menyerupai beberapa bola salju kecil. Strategi pertama, menghasilkan tiga domain utama, yaitu, 1) domain tentang BDN; 2) domain tentang tafsir BDN.  

Strategi kedua, tiga domain yang di dapat dari strategi pertama, menjadi bola-bola salju. Bola-bola salju ini dilepaskan di medan penelitian melalui wawancara dan observasi secara terus-menerus, sehingga masalah-masalah itu berkembang menjadi semakin banyak melalui informan baru. Pola ini dilakukan pada masalah mengenai masalah-masalah tentang tafsir wisatawan terhadap BDN dan strategi komunikasi pemasaran, di mana peneliti terus-menerus melakukan wawancara dengan wisatawan di kedua-dua negara, Dalam kenyataan di lapangan, ada masalah yang tidak memerlukan banyak informan namun terpusat pada orang-orang tertentu, seperti masalah-masalah branding destinasi negara yang masalahnya terpusat kepada pencipta atau institusi yang tahu tentang BDN, strategi komunikasi pemasaran yang terpusat kepada Bagian Pemasaran Pariwisata.  

Bagi strategi kedua îni peneliti akan banyak memperoleh data maupun informasi dengan secara terus-menerus mengembangkan wawancara dengan informan baru, memperoleh berbagai-bagai dokumentasi dan bahan video dan lainnya. Peneliti terus-menerus melakukan observasi lapangan, melakukan wawancara ulang dengan para pakar Periwisata, pakar brand, membuat catatan harian dan menghimpun berbagai informasi baru. Peneliti juga melakukan verifikasi terhadap hipotesa di lapangan untuk menguji hubungan-hubungan antara konsep-konsep yang dibuat, dan verifikasi ini terus dilakukan peneliti selama penelitin itu berlangsung. 

Strategi ketiga, semua masalah peneliti mengerucut pada domain-domain yang menjawab masalah penelitian. Strategi ini digunakan untuk melakukan sinergi terhadap semua masalah dan hipotesa yang telah dikembangkan di lapangan, sehingga mengerucut kepada jawaban-jawaban dalam penelitin. Pada proses strategi ketiga ini, peneliti lebih banyak merenung, membaca, menyimak, membuat abstaksi kembali terhadap berbagai-bagai data maupun informasi yang sudah diperoleh, bertanya dan berdiskusi lagi dengan kelompok-kelompok kecil untuk mendengar respon dan kritikan mereka terhadap draf tulisan yang sudah di buat, kemudian menulis lagi, membaca lagi dan kembali merenung tulisan-tulisan itu. Peneliti akhirnya membuat proposisi dan simpulan-simpulan yang menjadi bagian akhir dari penelitin ini.  

Dalam mengamalkan ketiga-tiga strategi OGT di atas, peneliti menggunakan wawancara dan observasi serta dokumentasi sebagai alat utama dari GT. Sebagaimana Strauss dan Corbin (Denzin & Lincoln, 2009), katakan bahwa grounded theory hampir sama dengan teori-teori lain yang digunakan dalam penelitin kualitatif, sumber data dan metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara dan observasi lapangan, begitu pula penggunaan berbagai- bagai jenis bahan-bahan dokumentasi. Dengan demikian peneliti dalam mengumpulkan data di lapangan, menggunakan metode-metode penelitian:  

Wawancara dengan informan untuk menggali berbagai-bagai masalah, berbagai bagai pemaknaan BDN yang ada pada informan, untuk mengetahui bentuk konstruksi serta mengetahui berbagai-bagai ragam tafsir terhadap BDN. Wawancara juga digunakan untuk menggali berbagai-bagai masalah di sekitar BDN yang ikut mempengaruhi masalah-masalah BDN, masalah-masalah mengenai kebijakan negara terhadap BDN serta Periwisata, dan harapan- harapan informan terhadap BDN.  

Selain wawancara, peneliti dapat menggunakan observasi lapangan dengan aktif mengunjungi destinasi-destinasi di kedua-dua negara untuk melihat langsung aplikasi-aplikasi proses-proses branding destinasi negara. Proses ini juga sekaligus menjadi trianggulasi (trianggulation) terhadap hasil-hasil wawancara yang sudah peneliti lakukan, sehingga proses penyegitigaan ini dilakukan seringkali juga terjadi kembali proses wawancara untuk menguji kembali hasil wawancara yang telah dilakukan sebelumnya terhadap sumber informasi yang lain. 

 
Pendekatan dan Teknik Analisis Data 

OGT dapat menggunakan pendekatan teknik analisis domain-taksonomik (spider-web), yang mana pendekatan analisis ini menggunakan langkah bertahap-tahap berdasarkan tiga kategori:  

Kategori tematik. Pada tahap ini peneliti melakukan aktivitas analisis data yang didapati dari semua key person, Aktivitas analisis peneliti bertumpu pada tema-tema utama (masalah penelitian). Sehingga akhirnya peneliti dapat membuat kategori tematik dari semua data dan informasi yang diperoleh dari informan dan sumber-sumber data lain. Kategori tematik ini menjadi domain bahasan yang akan dikembangkan peneliti setiap saat dalam pencarian data di lapangan. 

Kategori penguraian tematik. Berdasarkan domain bahasan sehingga menjadi jari-jari atau subtema (taksonomik) yang menyerupai jaring laba- laba (spider-web). Dengan demikian maka aktivitas analisis yang dilakukan oleh peneliti menyerupai rangkaian spider yang merangkai talian taksonomik dari kategori-kategori menjadi jaringan kategori dan mengurai jaringan menjadi simpul-simpul (domain-baru). 

Kategori domain baru. Peneliti melakukan aktivitas mengabstraksikan domain-baru dan pengesahan dengan teori untuk menghasilkan proposisi dan simpulan. 


CITRA BRAND DESTINASI NEGARA: TERAPAN PADA RISET KOMUNIKASI 

Dengan menggunakan OGT pada penelitian terhadap brand destinasi Indonesia dan Malaysia, penggunaan OGT di bantu oleh konstruksi sosial terhadap realitas (SCoR) telah berhasil mengungkapkan citra brand destinasi di Indonesia dan Malaysia. 

Memahami proses sosial komunikasi untuk memberi ruang kepada perkembangan komunikasi, merupakan panduan yang bermanfaat, karena ruang komunikasi akan membuka proses sosial yang lebih luas lagi pada bentuk kehidupan sosial berikutnya. Proses sosial komunikasi mempunyai lima tahap; 1) tidak tahu, 2) tahu, 3) memahami, 4) yakin, 5) respons (Vellas & Becherel, 2008). Proses sosial komunikasi itu, adalah tempat bersemadinya KStRBDN. 

Beberapa tahun yang lalu, pulau Aruba mengidentifikasikan Bagian Timur-Laut Amerika Serikat, sebagai sasaran pasar utama dan hampir semua segmen pasar yang relevan, tidak mengetahui tentang pulau tersebut berserta daya tariknya. Mengingat banyak destinasi akan mengambil pendekatan hubungan masyarakat untuk mengisi jurang komunikasi dan perkara citra, Aruba mampu membuat iklan bagi pengguna dan perdagangan secara besar- besaran. Dengan peruntukan anggaran promosi yang melebihi anggaran kebanyakan destinasi Karibia yang lainnya, juga kebanyakan Negara-Bagian Amerika Serikat dan daerah tujuan wisata asing, Aruba telah menempatkan kedudukannya pada peta destinasi, dan dengan pesat memajukan kedudukan itu pada proses sosial komunikasi (Vellas & Becherel, 2008).  

Alat pemasaran yang digunakan untuk mempengaruhi segmen pasar dapat berbeda pada setiap tahap proses sosial. Untuk menjangkau orang yang tidak tahu, diperlukan iklan, kampanye (branding) dan pemberitaan melalui media massa, sedangkan bagi mereka yang sudah tahu atau berada pada tahap memberi respons, perlu dilaksanakan pemasaran secara langsung (Vellas & Becherel, 2008), atau pemasaran secara langsung melalui komunikasi personal dan pemujukan perorangan terhadap paket perjalanan yang konkrit.  

Vellas dan Becherel (2008) berkata pula dalam istilah wisatawan, keadaan tahu atau sadar, kadang-kadang dapat menjadi pedang bermata dua. Honduras dan Nikaragua dikenali dunia karena angin taufan Mitch telah menghancurkan negara-negara tersebut. Dari kaca mata pariwisata ini, bukan publisiti yang tepat. Glasgow menderita bukan karena angin topan tetapi karena penurunan asas industri yang sangat drastis. Kampanye Glasgow's Miles Better merupakan contoh yang baik dari bagaimana memulihkan citra brand destinasi yang negatif. Pasar jelas mengetahui Glasgow, tetapi hampir seluruh citranya negatif. Setidak-tidaknya kota ini ada dalam peta, tetapi diperlukan inisiatif pengembangan yang besar dengan publisiti di sekitarnya, dirancang sebagai kota kebudayaan Eropa, pembukaan Scottish Exhibition and Convention Centre Jan Burell Collection of Art, dan lain-lain untuk memperbaiki citra yang buruk dan mendapatkan pemahaman yang positif dari destinasi. Pengembangan utama dan strategi yang digunakan juga didukung oleh kampanye domestik untuk mendorong penduduk Glasgow agar percaya pada kebangkitan kembali kota mereka dan bangga terhadap kota yang mereka diami.  

Dengan demikian pula, pariwisata Indonesia mengalami keadaan yang parah ketika Bali dibom pada tahun 2002, kemudian terjadi pula Bom Bali ke 2 tahun 2005 serta hambatan-hambatan lainnya pada tahun-tahun berikutnya. Peristiwa-peristiwa itu menghancurkan destinasi Bali secara ekonomi karena wisatawan takut datang ke Bali, bahkan untuk sementara waktu, citra Bali sama (serupa) dengan bom. Namun dari sudut lain, Bali mendapat promosi secara percuma, dari berita media massa ledakan bom di Bali itu. Sama pula dengan Yogyakarta, ketika Merapi meletus, pemberitaan media massa memberi citra negatif kepada Yogyakarta, seakan Yogyakarta telah hancur. Maka perlu upaya membangun kembali citra sosial Bali dan Yogyakarta agar masyarakat dunia tahu bahwa destinasi Bali dan Yogyakarta sudah pulih kembali.  

Semasa Palestin, Jepun, Mesir dan beberapa negara Timur Tengah serta Afrika bahkan mempunyai perkara yang lebih parah tentang citra wilayah tersebut di atas karena Palestin berterusan berperang, Jepun mengalami bencana alam Tsunami yang dahsyat dan Mesir serta negara-negara Timur Tengah dan Afrika mengalami proses revolusi sosial yang tidak dapat memberi rasa aman kepada wisatawan di sana. Media massa secara berterusan memberitakannya sebagai destinasi yang tidak aman bagi wisatawan. Jadi, memberikan pemahaman mengenai apa yang terjadi dan keadaan yang relatif aman merupakan tugas berat bagi kementerian urusan pariwisata masing-masing negara. Namun demikian, dalam situasi ini, tetap masih ada peluang untuk memperkuat kedudukan destinasi-destinasi itu dalam proses sosial komunikasi. Pada kenyataannya tidak semua konstruksi sosial brand destinasi negara diciptakan untuk maksud membina citra BDN, namun KStRBDN dianggap sempurna kalau BDN sampai pada tahap konstruksi citra sosial, karena itu penguasa destinasi atau agen pariwisata berupaya agar BDN mereka sampai pada pemberian citra sosial destinasi. 

Seperti yang bermaksud dalam penelitian ini, mengenai konstruksi sosial terhadap realitas BDN adalah proses sosial (sosiologi-komunikasi) dari suatu subjek dengan memberi kekuatan verbal dan visual dalam suatu proses konstruksi citra sosial, sehingga objek yang dibangun itu memiliki kemampuan untuk membangun realitas baru, yaitu sebuah dunia kognitif yang ada di fikiran manusia. Dalam membina realitas citra sosial, BDN dipengaruhi berbagai kepentingan, lingkungan mereka, budaya, pandangan terhadap produk destinasi, pengetahuan tentang dunia secara global, keahlian teknologi, termasuk kepentingan pemilik destinasi dan lainnya.  

Menurut Baudrillard (Yasraf, 1998, 228) “bahwa penciptaan realitas menggunakan satu tahap produksi yang disebut dengan simulasi, yaitu penciptaan tahap-tahap nyata yang tanpa asal-usul atau realitas awal. Hal ini disebut hiper-realitas. Melalui tahap simulasi, manusia dijebak dalam satu ruang, yang disadarinya sebagai nyata, walaupun sesungguhnya semu (pseudo), maya, atau khayalan belaka”. Ruang realitas semu (pseudo reality) itu merupakan satu ruang antitesis, seperti apa yang dikatakan oleh Derrida (1978) dengan dekonstruksi terhadap representasi (yang mewakili) realitas itu sendiri (Heru, 1999).  

Menurut Yasraf (1998, 228), “ruang realitas semu itu dapat digambarkan melalui analogi peta. Bila dalam suatu ruang nyata, sebuah peta merupakan representasi dari sebuah teritorial, maka dalam tahap simulasi, peta lah yang mendahului teritorial. Realitas sosial, kebudayaan, atau politik, kini di bangun berdasarkan tahap-tahap (peta) fantasi yang ditawarkan televisi, iklan, bintang- bintang layar perak, sinetron, atau tokoh-tokoh kartun. Adalah tempat-tempat seperti Disneyland, Las Vegas, Stadiun Wembley, bintang filem seperti Madonna, bintang bola sepak Lionel Messi atau tokoh kartun seperti Mickey Mouse dan Upin dan Ipin yang menjadi tahap dalam berbagai citra, nilai dan makna-makna dalam kehidupan sosial, kebudayaan atau politik”.  

Dengan demikian bahwa realitas yang dibangunkan dalam konstruksi sosial terhadap realitas sangat dipengaruhi oleh lingkungan mereka yang membina realitas sosial itu, termasuk pula simulasi (objek realitas) untuk menggambarkan realitas itu. Wacana simulasi adalah ruang pengetahuan yang dibangun menyerupai citra, di mana manusia mendiami suatu ruang realitas, sehingga perbedaan antara yang nyata dan fantasi atau yang benar dengan yang palsu, menjadi sangat tipis. Manusia hidup dalam dunia maya dan khayal, sehingga umpamanya televisi dan maklumat lebih nyata dari pengetahuan sejarah dan etika, namun sama-sama membentuk sikap manusia.  

Pada tahap lainnya, citra sosial yang dibangun ini amat penting dalam mengendalikan kemauan pelaku konstruksi citra sosial, karena pemberian citra sosial dilakukan oleh subjek yang membina. Ketika pemberian citra sosial itu ditafsirkan oleh orang lain sebagaimana kemauan pelaku konstruksi, maka sesungguhnya terjadi kesadaran semu (pseudo reality) terhadap realitas yang digambarkan sebagai suatu realitas itu.  

Menurut Burhan (2008, 35), "umumnya pencipta (pelaku) konstruksi sosial terhadap realitas berharap bahwa penciptaan makna citra sosial, dapat ditafsir oleh masyarakat sebagaimana yang dimaksud oleh pencipta. Namun tidak mustahil orang lain sering kali memaknakan lain terhadap realitas yang dicitrakan itu, disebabkan karena setiap orang akan mentafsir BDN, sesuai dengan lapisan (layer) pengetahuan mereka". Dengan demikian, berdasarkan kes Palestin, Jepun dan Yogyakarta, maka dapat disimpulkan, KStRBDN akan terbentuk apabila branding BDN yang dilakukan oleh pemilik destinasi atau pemangku negara tertentu untuk menciptakan siklus (proses sosial) baru yang menguntungkan destinasi tersebut.  

Realitas Sosial Bahasa dalam Brand Destinasi  

Ferdinand de Sausure (Noth, 2006) menunjukkan hakikat bahasa adalah sistem-tanda. Sistem ini dalam semiotika terdiri dari penanda (bunyi yang kita dengar, tutur kata atau huruf-huruf yang kita baca dan tulis serta tertanda atau makna. Eriel (2001, 99) berkata: "tidak ada kaitan langsung, ataupun hukum alam yang mengatur hubungan antara sistem tanda ini (bahasa) dengan realitas konkrit objektif (acuan). Jadi misalnya tidak ada kaitannya mengapa pria' disebut 'pria' atau "lelaki atau 'man'. Hubungan itu bersifat sewenang- wenang atau konvensional. Makna tidak dibentuk atau ditentukan oleh hakikat benda yang menjadi acuan, tetapi oleh perbedaan antara satuan penanda atau tertanda dengan sesamanya". Sistem tanda bahasa ini digunakan secara maksimum dalam brand destinasi. Iklan brand destinasi yang umumnya berdurasi dalam ukuran detik, memanfaatkan sistem tanda untuk memperjelas makna citra yang dikonstruksi. Sehingga apa yang ada dalam berbagai makna citra sosial BDN, sesungguhnya adalah realitas bahasa itu sendiri.  

Aleks (2003) menjelaskan, dalam bahasa komunikasi ada pesan verbal dan pesan visual. Pesan verbal berhubungan dengan situasi saat berkomunikasi dan situasi ini ditentukan oleh konteks sosial kedua pihak (addresser dan addressee) yang menjalani komunikasi. Sedangkan dalam pesan visual hubungan kedua-dua belah pihak sepenuhnya tidak ditentukan situasi, namun bagaimana addressee mentafsirkan teks dan gambar. Dalam komunikasi semiotik, interaksi simbolik selalu menggunakan ikon, indeks dan simbol.  

Pemberian citra sosial BDN menggunakan kedua-dua pesan (verbal dan visual) ini untuk membina makna dan citra sosial. Sehingga ketika brand destinasi dipromosikan di berbagai media komunikasi dengan menggunakan kata-kata, Malaysia Truly Asia (MTA) atau Indonesia The Ultimate in Diversity (IUiD) atau Wonderful Indonesia (WI), sebenarnya tidak sekadar kata-kata itu yang menjadi kekuatan konstruksi, karena walaupun bersama kata-kata itu ada berbagai potongan gambar video yang sangat menarik hati, memperkuat ingatan penonton terhadap kata-kata tersebut, namun sebenarnya kata-kata MTA, IUiD atau WI, itu telah diperkuat oleh bahasa visual gambar dan video yang hadir bersamaan kata-kata tersebut.  

Realitas bahasa dalam BDN juga dapat berbentuk tanda budaya. Ikon budaya modern telah menggambarkan dalam penampilan BDN tersebut, menggunakan tanda budaya sebagai asas budaya pascamodern. Kedekatan eksistensi budaya dengan selera pasca modern merupakan indeks budaya yang juga ikut dipertunjukkan dalam kampanye brand-brand tersebu Semua itu adalah simbol-simbol budaya popular (pastmomodern) yang bebas dan menjadi menikmati kesenangan yang berkelas sosial tinggi.  

Pembentukan realitas bahasa ini tidak terlepas dari peranan diri wisatawan, yang secara dialektika berhubungan dengan lingkungannya. Dengan kata lain telah terjadi internalisasi terhadap realitas sosial Herbert Mead (Paloma, 2004, 260, dalam Burhan, 2015), sesungguhnya. Berkata “self (diri) menjalani internalisasi serta tafsir terhadap realitas struktur yang lebih luas. Self benar-benar merupakan internalisasi seseorang atas apa yang telah digeneralisasikan orang lain, atau kebiasaan-kebiasaan sosial komuniti yang lebih luas. Ia merupakan produk dialektika antara ‘saya’ atau impulsif dari ‘diri’ dan ‘aku’ atau sisi sosial manusia. Maka dalam setiap diri seseorang terdiri dari biologi dan psikologi ‘saya’ dan ‘aku’ secara sosiologi”.  

Sebagaimana dikemukakan dalam konsep Totemisme (Benny, 2008), suatu masyarakat dapat mengidentifikasikan diri mereka dengan benda (totem) dan benda itu akhirnya menjadi rujukannya. Benny (2008, 128) berkata, “proses identifikasi diri melalui ketermaknaan (significance), mampu membawa seseorang pada nilai kebendaan (totem) tertentu”. Contoh, berkata “anggur sebagai totem ke-Perancis-an. Begitu pula brand Bally, Mercedes-Benz, BMW, McDonald's dan sebagainya, merupakan totem kelas sosial atas”.  

Dengan demikian pula kata Malaysia Truly Asia memiliki nilai kebendaan yang menjadikan Malaysia sebagai suatu negara atau wilayah yang terdiri dari berbagai masyarakat Asia. Jadi ada hubungan ketermaknaan antara kata (bahasa) Malaysia Truly Asia dan masyarakat Asia di wilayah Malaysia. Dengan demikian, ketika pencipta BEDN-VMY 2007 membuat logo BEDN-VMY 2007, mereka melakukan ketermaknaan bahasa melalui gambar Bunga Raya ke dalam bahasa yang lebih luas yang difahami oleh orang lain.  

Dalam masyarakat, suatu kelas sosial dapat diidentifikasikan sebagai tanda (bahasa) kebendaan kelas sosial tertentu, yang oleh Saussure (Noth, 2006, dalam Burhan, 2015), dikatakan setiap tanda selalu diikuti dengan maksud tertentu yang digunakan dengan sadar oleh kelompok yang menggunakan tanda-tanda itu, dan makna tanda-tanda itu ditangkap secara sadar oleh kelompok yang menerima pesan makna itu.  

Sebaliknya tanda-tanda itu tanpa disadari juga ditangkap oleh penerima pesan lainnya dengan makna yang berbeda dengan kelompok yang mengirimkan pesan tadi. Sehubungan dengan itu, tanda pengganti ‘objek’ secara signifikan tidak mesti ada atau benar-benar ada di suatu tempat pada saat tanda (bahasa) menggantikannya (Jalaluddin, Dedy, Yudi, & Malik, 1997, dalam Burhan, 2015).  

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan, penciptaan realitas dilakukan dengan menggunakan bahasa (verbal maupun visual) atau simbol. Ketika akan menciptakan realitas ‘benda’ maka bahasa dapat digunakan untuk ‘penggambaran’ realitas itu, namun pada saat akan menciptakan realitas citra sosial terhadap suatu ‘benda’, maka bahasa sahaja tidak cukup untuk tujuan tersebut, sehingga digunakan simbol (budaya, ikon budaya) sebagai alat penggambaran citra sosialnya. 

Di dalam KStRBDN, bahasa digunakan dengan dua tujuan; pertama, sebagai media komunikasi, dan kedua, bahasa digunakan untuk menciptakan sebuah realitas, Sebagai media komunikasi, maka kampanye iklan bersifat informatif sedangkan sebagai wacana penciptaan realitas maka brand adalah sebuah seni di mana orang menggunakan bahasa untuk menciptakan dunia yang diinginkannya, berdasarkan pengetahuan mereka yang berlapis-lapis (layer). Maka tafsir terhadap citra sosial BDN memiliki realitas yang berlapis- lapis pula, yaitu lapisan makna teknikal, lapisan makna ekonomi dan lapisan makna simbolik. Lapisan-lapisan (layer) realitas itu memiliki hubungan dengan keluasan pengetahuan wisatawan terhadap BDN tertentu.  

Pada lapisan teknikal, wisatawan mentafsirkan brand sebatas rekayasa media. Bahwa BDN adalah karya kreatif yang diciptakan untuk keperluan branding BDN. Sedangkan lapisan ekonomi mentafsir, bahwa BDN memiliki kandungan nilai ekonomis yang sedang berproses menjual destinasi, karena suatu BDN yang kuat, adalah BDN yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi terhadap destinasi. Sedangkan lapisan terakhir mentafsir BDN sebagai yang bermakna simbolik, sarat makna dan nilai sosial serta falsafah bangsa yang tinggi, mengandungi nilai budaya yang tinggi dan nilai kebangsaan yang tinggi. Dalam arti lain, bahwa BDN sebagai tanda (ikon) budaya destinasi Negara. 


Branding Brand Destinasi dan Branding Budaya Negara 

Brand destinasi selain memiliki makna yang dibangun sebagaimana produk usaha ekonomi modern, brand destinasi juga dapat menjadi media destinasi yang ditayangkan sebagai usaha promosi destinasi dan kampanye destinasi pariwisata. Brand destinasi juga dibangun berkaitan dengan usaha memperkenalkan budaya suatu negara.  

Banyak negara menggunakan BDN yang serupa dengan inti budaya bangsa mereka, hal ini untuk menjelaskan kepada wisatawan tentang hal ihwal produk destinasi yang ada di negara itu, atau untuk menjelaskan falsafah budaya, nilai budaya dan ragam budaya atau simbol-simbol yang menjadi simbol utama di suatu negara. 


Brand Destinasi dan Branding Budaya Negara Malaysia 

Brand event destinasi negara Visit Malaysia Year 2007 (BEDN- VIY 2007) menggunakan Bunga Raya, yang mewakili Bunga Negara Malaysia. Bunga Raya adalah bunga bangsa dan Negara Malaysia yang mencerminkan asas Negara Malaysia. Bunga Nasional Malaysia terdiri dari lima kelopak Bunga Raya, atau yang juga dikenali sebagai kembang sepatu. Dalam budaya Melayu, bunga bererti agung dan raya bererti bunga. Bunga Raya dapat tumbuh merata di seluruh Malaysia, dan pada tahun 1960 terpilih sebagai bunga nasional oleh Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri Malaysia pertama (Bunga Raya, Malaysia National Flower, 2011). 

Pengenalan terhadap Bunga Raya sebagai yang mewakili Bunga Negara Malaysia dapat dilihat salah satu jenis Bunga raya, juga dikenali sebagai bunga sepatu dan kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) ialah sejenis tumbuhan berbunga sepanjang tahun dalam genus Hibiscus yang sering ditanam sebagai pokok hiasan, seperti pada Gambar 1. 


Lima prinsip kebangsaan sebagaimana, mewakili sebuah usaha sebagai asas persatuan nasional dan meletakkan dasar yang kukuh bagi konsep yang bersifat universal dan dapat diterima semua warga negara, tanpa memandang asal-usul etnik atau afiliasi keagamaan. Sejak awal lagi, Bunga Raya telah digunakan dalam perubatan tradisional. Sehingga hari ini, masyarakat masih menggunakannya (Bunga Raya, Malaysia National Flower, 2011). 

Begitu pula BDN-MTA, merupakan branding destinasi dari suatu brand image destination yang mencerminkan suatu brand berdasarkan prinsip hidup Bangsa Malaysia. Malaysia adalah negara multi etnik. Terdapat tiga etnik utama Bangsa Malaysia, yaitu Melayu, Cina, India, selain itu terdapat pula etnik minoriti. Sebenarnya, terdapat ramai lagi etnik Asia yang hidup dan menjadi warga Negara Malaysia. Hampir semua etnik bangsa di Asia ada di Malaysia, seperti Thailand, Melayu Indonesia, Arab, Pakistan, Philipina, Myanmar dan sebagainya. 

Jadi Malaysia adalah sebuah keniscayaan bangsa Asia, Malaysia adalah benar-benar Asia, yaitu sebuah negara dengan begitu ramai bangsa Asia hidup di dalamnya. Oleh karena itu, dengan melawat ke Malaysia orang sudah dapat menyaksikan seluruh etnik Asia. Dengan mengunjungi Malaysia, seakan orang telah berada dalam benua Little Asia, itulah maka Malaysia menjadi MTA, Malaysia sebenarnya Asia atau Malaysia adalah Asia yang sebenamya. 

Prinsip-prinsip Negara Malaysia, kerukunan hidup etnik-etnik di Malaysia serta kenescayaan bangsa Asia di Malaysia, terangkum dalam BDN- MTA seperti Gambar 2. 

Dengan demikian, BDN Malaysia, MTA digunakan untuk mewakili sebuah kemajmukan bangsa Malaysia, kemajmukan berfikir, kemajemukan budaya, namun masyarakat Malaysia adalah tetap satu Malaysia sebagaimana dicitrakan oleh Brand Bangsa (brand nation) Malaysia, yaitu 1 Malaysia. Brand 1 Malaysia sendiri mencitrakan berbagai perbedaan yang ada di Malaysia sebagai suatu kenescayaan Bangsa Malaysia namun Malaysia adalah satu, satu dalam berfikir, satu dalam bertindak dan satu dalam berbangsa menuju cita-cita bangsa yang mulia, yaitu Malaysia jaya, Malaysia yang gagah perkasa dan Malaysia yang gemilang. Jadi sesungguhnya BDN-MTA bukanlah sekadar brand, tetapi di dalamnya sarat dengan falsafah budaya bangsa Malaysia yang mewakili dunia yang lebih luas. 

Dengan demikian MTA memiliki makna yang berasal dari inti budaya bangsa yang besar dan terbuka serta menghargai kebersamaan. Sekaligus pula. MTA juga memaknakan sebuah kesatuan bangsa yang kukuh dan kuat. Perbedaan etnik dan bangsa dalam masyarakat Malaysia, menjadikan warga negara Malaysia semakin sadar untuk memperkuat sebuah bangunan bangsa Malaysia sebagai bangsa yang satu, kekal dan abadi. 

Walaupun BDN Malaysia memiliki falsafah dan budaya bangsa yang kuat, namun Malaysia menyedari BDN Malaysia tak memiliki asas formal brand yang kuat, karena itu pada tahun 2010, dilancarkan Brand 1 Malaysia' sebagai Brand Negara Malaysia sebagai salah satu asasnya adalah memberi payung falsafah terhadap BDN-MTA. Logo JNM-1 Malaysia seperti pada Gambar 3. 

Lahirnya JNM-1M setelah BDN-MTA ada, namun ketiga brand tersebut saling memberi makna satu kepada yang lain, sehingga ketiga-tiganya memiliki hubungan yang erat, dengan kata lain JN-1M adalah menjadi payung brand dari BDN-MTA, kemudian BDN-MTA. 

Makna logik dalam brand-brand tersebut memudahkan wisatawan mentafsirkan brand-brand itu sehingga isi pesan makna yang ada dalamnya menjadi mudah dimengerti. Jadi, membangun suatu BDN, sepatutnya disokong oleh falsafah yang kuat yang bersumber dari budaya bangsa tersebut. Seperti yang terjadi pada BDM, brand ini bersumber dari budaya negara Malaysia, brand tersebut juga digunakan secara konsisten di semua lapisan masyarakat sehingga menjadi brand yang kuat. Kekuatan BDM seperti yang dapat dijelaskan pada BDN-MTA dan berdasarkan intisari temu bual dengan informan, brand-brand itu memiliki sifat sebagai berikut; 1) bersumber dari falsafah bangsa; 2) konsisten pada aplikasi sehingga mengkonstruksi citra dalam masyarakat; 3) berdasarkan simbol-simbol negara sehingga merepresentasikan budaya bangsa; 4) memberi pesan pencitraan terhadap potensi destinasi suatu bangsa, seperti budaya, cita rasa, festival, adat-tradisi dan sebagainya; 5) kreatif, konstan di sasaran pasar dan konsisten dibranding, serta pencitraan dapat dibuktikan; 6) mengandung makna yang konkrit terhadap pesan yang disampaikan. 


Brand Destinasi dan Branding Budaya Negara Indonesia 

Pada saat penelitian ini mulai dilaksanakan, pada tahun 2007, BDI menggunakan brand Indonesia Ultimate in Diversity (IUiD) yang menggambarkan keragaman dan daya tarik budaya Indonesia yang tiadatara. Maksud dari brand tersebut, pihak pariwisata Indonesia sedang membina BDI untuk mewakili ratusan bahasa, etnik, dan gaya hidup yang sangat beragam, serta Indonesia menawarkan banyak hal menarik untuk dijelajahi. Pantai nan indah, pegunungan menawan, air terjun yang menenangkan hati, peninggalan masa silam, biota laut yang elok, kebudayaan dan kebiasaan yang unik. Demikian banyaknya tempat pariwisata eksotik yang layak untuk dikunjungi, membuat wisatawan puas hati tinggal lama di Indonesia (Arti Logo, 2008). 

Brand IUiD menunjukkan pula Indonesia memiliki beragam objek pariwisata berkelas dunia, seperti Borobudur, Gunung Bromo, Taman laut Bunaken, Destinasi Banda Neira, Taman Luat Wakatobi, Komodo dan sebagainya, semua ini dipresentasikan pada brand IUiD. Pada tanggal 1 Januari tahun 2011, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia menggunakan BDN baru sebagai modifikasi dari BEDN-VIY 2008, yaitu Wonderful Indonesia (WI) dengan tetap menggunakan simbol BEDN-VIY 2008. 

Wonderful Indonesia (WI) melambangkan harapan Indonesia terhadap sebuah realitas kehidupan masyarakat Indonesia yang 'luar biasa, ' di samping menggambarkan kesatuan berbagai elemen pariwisata di Indonesia yang terdiri dari people, culture, national beauty, natural resources, dan opportunity investment, yang luar biasa (Sapta, 2010). Kata wonderful menunjukkan suatu yang luar biasa. Jadi Indonesia itu luar biasa. Luar biasa alamnya, budayanya, kulinarinya, dan sebagainya. 

Dalam kalangan umum di Indonesia, brand-brand tersebut dibangun tanpa memperhatikan budaya dan sejarah bangsa Indonesia yang sesungguhnya, sehingga maknanya sering membingungkan orang yang melihatnya. Ada pula yang berkata bahwa Indonesia belum tiba masanya memiliki brand destinasi karena infrastruktur destinasi di Indonesia belum dibangun dengan baik. Bahkan ada yang berkata Indonesia tidak memiliki komitmen yang kuat untuk memiliki sebuah brand destinasi. Ramai juga yang berkata bahwa brand destinasi IUiD, walaupun ada tetapi sering tidak digunakan di berbagai kesempatan dan aplikasi. Hal yang sama pula dialami oleh BDN-WI, sejak dilancarkan oleh KEMENBUDPAR RI tanggal 1 Januari 2011, sampai dengan enam bulan kehadapan, brand tersebut jarang terlihat di tempat-tempat umum, di pengangkutan umum dan sebagainya. Sehingga bulan Desember 2011, BDN-WI belum juga ramai digunakan oleh pihak pemerintah Indonesia mahupun stakeholder pariwisata di Indonesia. 

Untuk Indonesia, proses menciptakan brand destinasi selain kurang mencerminkan budaya bangsa, prosesnya pun dilakukan sendiri oleh pemegang autoriti Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Kesimpulannya, brand destinasi dan branding budaya bangsa Indonesia dibuat tanpa memperhatikan budaya dan sejarah bangsa Indonesia. Proses pembuatannya pun tidak transparan sehingga penyertaan semua pihak yang ingin menyumbangkan fikiran mereka dalam membina brand destinasi ini tidak dapat disalurkan. Ketika Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia menyatakan menggunakan brand baru, yaitu WI, berdasarkan apa yang diamati oleh penyelidik, tidak ada respons apa-apa dari kalangan pariwisata di Indonesia karena di samping brand itu hanya menggunakan kembali brand VIY 2008, kata wonderful itu pula telah sering digunakan oleh berbagai pihak untuk berbagai kepentingan, sehingga tidak merupakan suatu yang baru dan istimewa. Kemudian saat ini digunakan pula secara binary brand Pesona Indonesia, untuk pasar demestik dengan bentuk brand yang sama dengan WI. 

Banyak orang tidak percaya bahwa brand WI akan berhasil kalau Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesistafnya tidak memiliki komitmen yang kuat untuk mengamalkan brand tersebut dengan sebaik-baiknya karena; 1) brand WI, sangat generic, banyak negara menggunakan kata itu untuk berbagai tujuan; 2) brand tersebut tidak terlalu mencerminkan Indonesia sesungguhnya; 3) karena sering kali BDI berganti-ganti, jadi dapat pula WI akan ‘mati sebelum berkembang,’ hal ini seperti nasib yang dialami oleh Indonesia Ultimate in Diversity dan brand-brand destinasi Indonesia sebelumnya; 4) logo WI merupakan logo multi tafsir, tidak memiliki makna yang logik, kecuali hanya menampilkan nilai seni. 

Berdasarkan hal tersebut di atas, informan, KEMENBUDPAR tidak konsisten dalam menciptakan dan mengamalkan BDI. Selain brand-brand itu tidak memiliki makna yang logik, tindakan menggunakan kembali BEDN-VIY 2008 pada logo BDN-WI, merupakan tindakan yang tidak konsisten, terutama sekali didapati pembuatan BDN tidak diberi perhatian yang serius, sehingga harus menjalani aplikasi menggunakan kembali brand lain yang mana, brand itu telah banyak menuai kritikan dari berbagai pihak di dalam Negara. 

Dapat disimpulkan bahwa BDI, baik BDN-IUID, BDN-WI adalah suatu brand destinasi yang termasuk pada kategori BDN yang tidak kuat atau lemah. Ciri-ciri BDN yang tidak kuat atau lemah adalah; (1) brand tersebut menjadi polemik dalam masyarakatnya sebagai suatu brand yang tidak mewakili destinasi negaranya; (2) tidak berakar pada falsafah bangsanya; (3) tidak memiliki komitmen aplikasi di lapangan; (4) memancarkan makna pesimistik bagi orang yang melihatnya; (5) bersifat generik, karena orang lain juga telah menggunakannya; (6) tidak konsisten, karena sering berganti-ganti brand; (7) didapati pembuatan brand tidak diberi perhatian yang serius; (8) terlalu abstrak sehingga tidak mampu memberi pesan makna apa-apa kepada orang yang mengamatinya. 


KESIMPULAN 

Penggunaan open grounded theory (OGT) dalam riset komunikasi memiliki peluang yang sangat besar diwaktu-waktu yang akan datang. Grounded Theory (GT) adalah metode yang terbuka untuk digunakan diberbagai bidang ilmu termasuk riset-riset komunikasi. Penggunaan OGT pada riset brand destinasi Indonesia dan Malaysia seperti yang dibahas di atas atas contoh dimana GT dapat digunakan dengan berbagai variasi dan modifikasi. 

Di Indonesia terbuka peluang yang sangat luas untuk menggunakan GT ini mengingat objek-objek riset komunikasi di Indonesia bervariasi termasuk dalam bentuk visual dan verbal. Apa yang dibahas di dalam tulisan ini dengan OGT menjadi salah satu contohnya. 

Tidak ada pilihan kecuali melakukan modifikasi terhadap metode dan teori yang ada di dalam riset-riset komunikasi sehingga mendorong inovasi metodologis dan keilmuan, terutama yang bercirikan komunikasi atau yang bercirikan kearifan lokal Indonesia, sehingga akan mendorong terbentuk berbagai macam cabang keilmuan komunikasi dan metodologis sehingga menjadikan bidang ini sebagai bidang keilmuan yang kuat. 

 

DAFTAR PUSTAKA 

Aleks Soubor. (2004). Analisis teks media: Suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotika, dan analisis framing. Bandung: Rosda. 

Arti logo. (2010). Diakses dari http://www.budpar.go.id/page.php?ic =551&id =3148 

Arti logo. (2008). Diakses dari http://www.budpar.go.id/ page.php?ic=551 

Benny H. Hoed. (2008). Semiotik dan dinamika sosial budaya. Jakarta: FIPB, UI. 

Burhan Bungin. (2000). Konstruksi sosial media massa: Makna realitas iklan televisi dalam masyarakat kapitalistik, (Disertasi doktoral yang tidak diterbitkan). Universitas Airlangga Surabaya, Indonesia). 

Burhan Bungin. (2015a). Komunikasi Pariwisata, Jakarta: Prenada Media. 

Burhan Bungin. (2005). Analisis penelitian kualitatif. Jakarta: Rajawali Press. 

Burhan Bungin. (2008). Konstruksi realitas sosial media, iklan televisi dan keputusan konsumen serta kritik terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Jakarta: Prenada Media. 

Burhan Bungin. (2009). Sosiologi komunikasi. Jakarta: Prenada Media. 

Burhan Bungin. (2010a). Destinasi Banda Neira: Brand pariwisata Indonesia Timur, sejarah masa lalu, kekayaan Maluku masa kini, dan dinamika Bandanese. Jakarta: Prenada Media. 

Burhan Bungin. (2010b). Grounded research dalam masalah kebijakan publik. Makalah dibentangkan di Lokakarya Penelitian Sosial Magistra College, Surabaya, Indonesia. 

Bunga Raya, Malaysia national flower. (2011). Diakses dari http://travelMalaysiaguide.com/bunga-raya-Malaysia-national-flower/ 

Branding a Destination: Malaysia Truly Asia. (2005). Tourcom Regional Conference Amman, Jordan, September 21. Diakses dari www.world-tourism.org 

Creswell, J. W. (2008). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative reasearch. New Jersey: Pearson. 

Creswell, J. W. (2009). Research design: Qualitative, quantitative and mixed methods approaches. London: Sage Publications. 

Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (Eds.). (2009). Handbook of qualitative research. (Dariyatno, Badrus Samsul Fata, Abi, & John Rinaldi, Trans.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Deny Hidayat. (1999). Paradigma dan perkembangan penelitian komunikasi. Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, 3(4), 24-26. 

Eriel Eryanto. (2001). Analisis wacana: Analisis teks media. Yogyakarta: LKIS. 

Heru Nugroho. (1999). Konstruksi sara, kemajemukan dan demokrasi. Jurnal UNISIA. 40(22), 24. 

Noth, W. (2006). Handbook of semiotics (A. S. Ibrahim, Trans.). Surabaya: Universitas Airlangga Press. 

Sapta Nirwandar. (2010). Target 2010 capai 7 Juta WISMAN: Perlu dukungan BUMN yang terkait. BUMN TRACK, 30, 44-47. 

Sapta Nirwandar. (2010). Jero Wacik: “Wonderful Indonesia”. Diakses dari http://lipsus.kompas.com/holidayfestive/read/2010/12/28/17053532/Jero.Wacik.Wonderful.Indonesia 

Vellas, F., & Becherel, L. (2008). Pemasaran pariwisata international: Sebuah pendekatan strategis. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 

Yasraf Amir Piliang. (1998). Sebuah dunia yang dilipat: Realitas kebudayaan menjelang melinium ketiga dan matinya postmodernisme. Bandung: Mizan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini