Jumat, 15 Desember 2023

SOMBONG DAPAT MERUSAK DIRI SENDIRI

 


Agar Tidak Sombong Selalu Bercermin 

Oleh : Basa Alim Tualeka


Media Online - Alim Academia: Kata Kunci : Sombong adalah sikap atau perilaku yang menunjukkan rasa superioritas, keangkuhan, atau merasa lebih baik daripada orang lain. Istilah ini seringkali dikaitkan dengan ketidakmampuan untuk menerima pendapat atau pandangan orang lain secara terbuka. Seseorang yang sombong cenderung menunjukkan sikap angkuh dan kurang bersedia untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan penuh penghargaan.

Seseorang dapat menjadi sombong karena berbagai alasan, termasuk memiliki kelebihan dalam hal harta, kepintaran, kecerdasan, atau prestasi tertentu. Sombong biasanya muncul ketika seseorang merasa superior atas faktor-faktor tersebut dan tidak mengakui nilai atau kontribusi orang lain. Penting untuk diingat bahwa memiliki kelebihan atau prestasi bukanlah alasan untuk bersikap sombong, seharusnya diimbangi dengan sikap rendah hati dan penghargaan terhadap orang lain.

Contoh Kasus :  Suatu saat ada Seorang pria yang sedang bertamu di rumah seorang KETUA ORGANISASI tertegun heran,  ketika melihat Sang KETUA sedang sibuk bekerja sendiri menyikat lantai rumahnya sampai bersih.

Pria itu bertanya: Apa yang sedang Anda lakukan Pak  KETUA ?

Pak Ketua menjawab dgn Tersenyum : Tadi saya kedatangan tamu yang meminta nasihat, Dan Saya berikan banyak nasihat yang bermanfaat, Namun, setelah tamu itu pulang saya merasa jadi orang hebat, kelihatannya Kesombongan saya mulai muncul,  Oleh karena itu, saya lakukan  PEKERJAAN INI untuk membunuh perasaan SOMBONG saya. 

Kita semua tahu bahwa SOMBONG adalah PENYAKIT HATI yang sering menghinggapi kita semua, Siapa saja dan apapun statusnya, orang awam atau TOKOH AGAMA, pejabat, penguasa, pengusaha bisa juga dihinggapi penyakit sombong ini, 

Bahkan di kalangan para  PENGKOTHBAH pun, benih-benih kesombongan kerap muncul tanpa mereka sadari. 

Ada SOMBONG disebabkan oleh faktor materi, Dimana kita merasa lebih kaya, lebih berkuasa, lebih tinggi jabatan, lebih rupawan dan lebih terhormat dari orang lain. 

Ada SOMBONG disebabkan oleh *FAKTOR KECERDASAN*, kita merasa : Lebih rajin, Lebih pintar, Lebih kompeten, Lebih berpengalaman, Lebih berwawasan dibandingkan dengan orang lain. 

Ada SOMBONG disebabkan oleh *FAKTOR KEBAIKAN*, kita sering menganggap diri kita: Lebih bermoral, Lebih pemurah, Lebih banyak amalnya, Lebih bersemangat berjuang dan beribadah, Lebih banyak kontribusinya untuk umat, Lebih besar dari orang lain berdasarkan apa yang sudah dicapai, seraya meremehkan orang lain dengan menganggapnya orang kecil dan Lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Jadi Yang menarik adalah Semakin Tinggi tingkat KESOMBONGAN kita, semakin sulit pula kita mendeteksinya.

SOMBONG karena MATERI mudah terlihat,  Namun,  SOMBONG karena PENGETAHUAN, apalagi SOMBONG karena KEBAIKAN, SULIT DILIHAT. Karena, seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Cobalah setiap hari kita melakukan INTROSPEKSI diri dengan selalu bercermin, Kadang kita butuh orang lain utk mengintrospeksi diri, kita juga butuh kritikan dan masukan dari orang lain. 

Maka Mari kita sadari bahwa setiap hal yang baik, yang bisa kita lakukan itu semua adalah karena izin dan pertolonganNya saja,  maka hendaklah kita banyak bersyukur kepada-Nya.

Semua itu adalah ANUGERAH-NYA.

Kita harus paham bahwa KESOMBONGAN hanya akan membawa kita pada KEHINAAN DIRI dan KEJATUHAN yang mendalam. Tetaplah BERSABAR dan RENDAH HATI. 

Ingat Ketika lahir, dua tangan kita kosong, ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong. Waktu datang kita tidak membawa apa-apa, waktu pergi kita juga tidak membawa apapun.

Maka Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan, jangan minder karena miskin dan rendah, bukankah kita semua hanyalah tamu didunia ini, pada waktunya kita pulang keakherat dan semua milik kita hanyalah titipan dari Tuhan yang se waktu2 diambilNya !

TETAPLAH RENDAH HATI seberapapun tinggi kedudukan kita. TETAPLAH PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita. HANYA SATU KEPUNYAAN KITA yang bukan pinjaman, yg akan kita bawa kemana pun kita pergi, yaitu IMAN, ISLAM dan AMAL PERBUATAN.

Orang bisa menjadi sombong atau takabur karena berbagai faktor, antara lain:

  1. Ketidakpastian Diri: Seseorang yang merasa tidak aman atau tidak yakin tentang dirinya sendiri mungkin mengkompen­sasi dengan sikap sombong untuk menyembunyikan ketidakpastiannya.
  2. Rasa Rendah Diri: Ironisnya, orang yang memiliki rasa rendah diri kadang-kadang mengadopsi perilaku sombong sebagai cara untuk merasa lebih baik atau mengatasi perasaan kurang percaya diri.
  3. Prestasi dan Kepemilikan: Keberhasilan dalam karier, kekayaan, atau prestasi tertentu dapat membuat seseorang merasa lebih baik daripada orang lain, yang kemudian dapat mengarah pada sikap sombong.
  4. Kurangnya Empati: Kurangnya kemampuan untuk memahami atau merasakan perasaan orang lain dapat menyebabkan ketidakpedulian, yang pada gilirannya dapat menyebabkan perilaku sombong.
  5. Pendidikan dan Budaya: Terkadang, norma budaya atau pendidikan tertentu dapat memperkuat sikap sombong. Misalnya, seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang mendorong superioritas bisa mengembangkan sikap takabur.

Penting untuk diingat bahwa sikap sombong dan takabur bukanlah tanda kekuatan atau keberhasilan sejati. Sebaliknya, kesederhanaan, empati, dan penghargaan terhadap orang lain dapat memperkaya hubungan sosial dan pribadi.

Jika kita menyadari adanya sikap sombong dalam diri sendiri, langkah-langkah berikut dapat membantu mengatasi atau mengurangi perilaku tersebut:

  1. Refleksi Diri: Introspeksi diri untuk mengidentifikasi perilaku sombong dan mencari akar penyebabnya. Pertanyakan diri sendiri secara jujur tentang alasan di balik sikap tersebut.
  2. Bersikap Rendah Hati: Sadar akan kesalahan atau kekurangan pribadi. Bersikap rendah hati dan mengakui bahwa setiap orang memiliki nilai dan potensi masing-masing.
  3. Empati: Berusaha memahami perasaan dan perspektif orang lain. Mempertimbangkan bagaimana tindakan atau kata-kata kita dapat memengaruhi orang di sekitar.
  4. Penerimaan Kritik: Terbuka terhadap masukan dan kritik konstruktif dari orang lain. Menggunakan umpan balik sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang.
  5. Belajar dari Pengalaman: Mengambil hikmah dari pengalaman hidup dan kesalahan. Pertimbangkan bahwa kegagalan dan tantangan adalah bagian dari proses pembelajaran.
  6. Pentingnya Kolaborasi: Menghargai kerja sama dan kontribusi orang lain. Menyadari bahwa keberhasilan sering kali hasil dari upaya bersama.
  7. Mengembangkan Kesadaran Diri: Terus memantau dan mengontrol perilaku sombong secara berkala. Kesadaran diri adalah langkah awal untuk perubahan positif.

Mengakui dan mengatasi sikap sombong memerlukan kesadaran diri yang tinggi dan komitmen untuk terus berusaha menjadi versi diri yang lebih baik. Proses ini dapat membawa manfaat baik bagi diri sendiri maupun hubungan dengan orang lain. (Alim Academia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga :

Translate

Cari Blog Ini